Punggaluku

-Enam bulan awal 2010 adalah mosaik kesendirian-

Entah takdir mana yang membawa saya ke tempat ini, tempat yang jauh di Timur Indonesia, yang membayangkannya pun saya tidak pernah. Projek dadakan kantor dengan rencana yang tidak matang adalah alasan yang paling tepat untuk semua ini.

Saya dan lima orang yang lain tiba-tiba ditugaskan ke Sulawesi Tenggara, mengerjakan projek dengan kerjasama POLRI. Setelah diskusi di kendari dan penempatan lokasi, saya dapat di Konawe Selatan, tempat terdekat dari Kendari yang hanya 1 jam. Konawe Selatan (orang-orang disana lebih familiar dengan nama Konsel) sejauh mata memandang adalah hamparan padang rumput serta hutan-hutan seperti melewati jalur lintas Sumatera. Titik-titik keramaian bisa dihitung dengan jari, selebihnya sunyi. Pusat keramaian adalah di Punggaluku,karena disitu ada pertigaan jalur lintas kota, mess Polisi, ada lapangan bola dan juga pasar pagi. Jangan bayangkan konsel seperti kota-kota di Jawa yang ramai, 1/10nya pun tidak. Dan saya, harus harus beradaptasi sebulan ke depan dengan situasi ini. 

Mobil carteran membawa saya ke Konsel, langsung ke kantor Polresnya dan bertemu dengan orang yang ditunjuk untuk menemani saya selama pekerjaan disana. Pak Asdar, nama bapak muda yang di awal obrolan kami cukup kaku, mungkin menyesuaikan dengan institusi dia bekerja. Saya yang benar-benar ‘blank’, hingga di satu percakapan akhir, saya bertanya

‘Pak, bisa dibantu tidak mencari penginapan atau kos2an buat saya selama sebulan disini’
‘E tida usah, sodara tinggal di rumah saya saja di Punggaluku. Komandan sudah kasih perintah buat menjaga sodara selama disini, di rumah sudah disiapkan kamar’

Oalah, nasib baik masih bersama saya.
Baca lebih lanjut

2012 -review singkat-

Januari

Saya ndak kemana-mana, di Jakarta saja. Ada yg ngajakin ke Sangiang ditolak karena masih 40 harian papa.

Februari

Lupa, kayaknya gak kemana-mana juga

Maret

Nonton teater nabi Darurat rasul Ad-hoc di Gedung kesenian jakarta trus Jogja bareng si pacar, ngetrip pertama berdua yang sungguh menyenangkan

Camera 360April

Naik balon di TMII sama anak-anak kantor, team hura-hura. Akhir bulan ke curug 7 Cilember.

Mei

Di bulan ini menginjak tanah Lombok perdana. Rinjani-Gili Trawangan

2012-05-15 16.51.17

2012-05-18 06.27.33

 

 

 

 

 

 

 

 

Juni

Caving ke Buniayu
Baca lebih lanjut

Pejalan

Next trip kemana lagi? belakangan ini saya mulai terbiasa dengan pertanyaan itu, baik yang ditanyakan ke saya atau saya yang menanyakan. Jika dikembalikan ke awal, semuanya bermula dari Jakarta. Tepatnya, Jakarta memaksa saya untuk jadi pejalan. Selain tempat mencari pundi-pundi, Jakarta tidak menawarkan apapun kepada orang seperti saya. Di akhir pekan yang notabene adalah waktu libur bagi kacung swasta seperti saya, Jakarta hanya menawarkan mall dan mall lagi. Pilihan selain mall adalah keluar Jakarta, menemukan tempat-tempat baru yang bisa melepaskan penat sejenak dari kesibukan pekerjaan. Dan saya memilih itu.

Akhir-akhir ini orang-orang mulai banyak yang senang melakukan perjalanan. Mengunjungi satu tempat, baik itu gunung, laut, pantai, ke tempat-tempat yang menyajikan kearifan lokal, goa ataupun hanya sekedar mampir untuk mencicipi kuliner khas daerah tersebut. Semakin banyaknya informasi dan menjamurnya grup/milis/komunitas yang menyelenggarkan kegiatan bersifat jalan-jalan menjadikan tempat-tempat yang tadinya orang tidak tahu menjadi tahu dan memudahkan. Baca lebih lanjut

Rayya, Perjalanan Bunuh Diri

Aku Rayya, bintang tanpa tandingan. Aku orang nomor satu di pancaran spotlight popularitas negeri ini. Aku bisa memilih 100 atau 200 laki-laki diantara 50 juta laki-laki yang semuanya bisa aku jadikan budakku dan bisa mencium kakiku. Tapi aku memilih laki-laki biasa, yang akhirnya mengkhianati cintaku.

Rayya adalah cerminan perempuan yang diidam-idamkan seluruh perempuan. Kaya, cantik, terkenal, punya segalanya. Rayya menjadi apa yang diinginkan orang lain, sementara jauh di dalam dirinya terdapat ruang kosong, perasaannya hampa, tertipu oleh cinta. Berangkat dari kegelisahannya, Rayya melakukan perjalanan mencari dirinya.

Film ini dibuka dengan beberapa orang yang sedang membahas pembuatan buku tentang biografi Rayya, sementara di tempat lain Rayya menemukan kenyataan bahwa laki-laki yang dia sandarkan cinta kepadanya, ternyata sudah punya istri. Memilih untuk mempertahankan keluarganya, laki-laki itu mencampakkan Rayya. Tertipu, cinta Rayya berubah jadi kebencian, amarah, dendam. Begitu inginnya dia membunuh laki-laki itu, membunuh dari pikirannya, dari hatinya sampai Rayya memutuskan untuk pengambilan gambar tentang bukunya, dia hanya mau melakukannya berdua dengan fotographer, tanpa kru. Rayya yang hatinya tidak bisa ditebak, di tengah jalan memulangkan fotographernya hanya karena insiden ‘kecil’. Tim kreatif pembuatan bukunya panik, walau bagaimanapun buku Rayya harus tetap terbit. Diputuskan untuk mendatangkan fotographer pengganti.

Aku Arya, aku laki-laki biasa, pekerja rendahan yang ketlingsut dibalik cahaya lampu-lampu. Aku tidak pernah berhitung berapa banyak perempuan yang bisa aku taklukkan. Sekedar menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Istriku sanggup melihat laki-laki lain, tapi aku tidak sanggup melirik perempuan lain.

Arya, laki-laki yang punya kegelisahan yang sama, menyikapi persoalan hidupnya dengan cara berbeda. Laki-laki yang juga belum bisa berdamai dengan kenyataannya, tapi tidak meratap, bersedih ataupun menangis, marah tapi tidak pakai amarah. Berdua, Rayya dan Arya melakukan perjalanan dari Jakarta sampai Bali untuk pengambilan gambar. Menemukan apa yang mereka cari, bunuh diri. Baca lebih lanjut

Matchbox Twenty

SaImageya selalu merasa kalau musik itu adalah wilayah relatif, wilayah yang cair. Buat saya tidak ada musik bagus dan musik jelek, yang ada adalah musik yang enak didengar dan kurang enak didengar. Pada akhirnya soal musik kembali ke soal telinga, cocok-cocokan saja, selera telinga setiap orang beda-beda. Seperti mengecap rasa manis, tak ada yang bisa mengatakan itu manis atau tidak kecuali dirasakan sendiri.

Pertama saya mendengar dan melihat Matchbox 20 *sebelum berganti jadi Matchbox Twenty* ketika penghujung 1997 dan awal 1998 ketika MTV sedang di puncak kejayaaannya sebagai stasiun televisi khusus musik, lagu mereka yang berjudul ‘Push’ dari album ‘Yourself or Someone Like You’ menyelinap diantara kepungan Boy/Girl bands dan grup-grup musik seperti Arkarna, Blink 182, Collective Soul, The Cranberries, Creed, Foo Fighter, Goo Goo Dolls, Green Day, Oasis, The Offspring, RHCP, Sugar Ray, Vertical Horizon. Reaksi pertama saya melihat video klip dan mendengar lagu mereka adalah ‘lagunya lumayan enak di telinga, video klipnya gak jelas’ 😀

Periode 97-98 saya sering mendengar lagu tersebut di MTV, jaman itu belum marak mp3 apalagi internet, saya malah belum tau, jadi ya cukup mendengarkan dan menonton di tv. Hingga kemudian tahun 2000 Matchbox 20 *yang berganti jadi Matchbox Twenty* mengeluarkan album baru berjudul ‘Mad Season’, MTV kembali menanyangkan beberapa video klip mereka *sebelumnya lagu ‘smooth’ Santana dan Rob Thomas cukup booming di tv*. Reaksinya sama ‘lagunya enak, video klipnya aneh’
Baca lebih lanjut

Lebaran dan Rindu

Rumah“apa makna lebaran buatmu?”
Berkumpul dan bergembira. Sesimpel itulah jawabanku.
Aku tidak pernah merasa lebaran sebagai sebuah hari kemenangan.
Lebaran adalah saat dimana kita berkumpul dan bergembira dengan orang-orang terdekat kita.

Inilah yang saya tulis 2 tahun lalu tentang lebaran. Jika ditanya sekarang, jawaban saya akan tetap sama.

Lebaran adalah peristiwa penyambung silaturahmi yang terputus, memperbanyak komunikasi yang jarang, mempererat perasaan pada orang-orang yang disayangi. Lebaran adalah persiapan puasa yang lebih baik, berpuasa atas diri sendiri.

Inilah lebaran pertama tanpa Papa, semua yang berkaitan dengan Ramadhan dan lebaran itu selalu asyik kalau ada Papa. Tentang sahur yang penuh dengan paksaan, hidangan berbuka yang selalu berlebih. Yang paling membuat saya rindu pada Papa di bulan Ramadhan tahun ini adalah sholat maghrib berjamaah. Saya rindu dengan lafal bacaan Al-Fatihahnya dan juga doa sesudah sholatnya. Karena hanya pas bulan Ramadhan, kami sekeluarga bisa sholat berjamaah di rumah. Hari biasa selain bulan Ramadhan, papa adalah milik mesjid kampung, walaupun suaranya tetap terdengar sampai ke rumah. Buat saya sholat maghrib berjamaah di rumah itu momen yang bikin kangen, dan baru sekarang terasa kehilangannya.

Di tempat terbaik di sisi Allah, saya percaya Papa merayakan lebaran ini. Walau wajah tak berhadap, tangan tak berjabat, hati kita tetap bertemu, Mohon maaf lahir batin Pa.

Untuk semua yang merayakan kegembiraan berkumpul bersama orang-orang yang disayangi dan juga untuk semua yang tidak bisa mudik berkumpul bersama orang-orang yang disayangi karena berbagai hal, tetaplah bergembira.

Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H,
Mohon maaf lahir dan batin.

Lombok 11 – 19 Mei 2012

ImageBermula dari obrolan di media social facebook akhir Oktober 2011 dengan teman-teman yang sering jalan-jalan, muncullah ide untuk mendaki Rinjani. Saya yang waktu itu di tag di message fb tidak terlalu antusias, bukan tidak ingin, biasa saja. Dalam bayangan saya, Rinjani adalah sebuah mimpi, jauh di atas kepala saya. Kalau disuruh memilih, saya lebih bersemangat mendaki Semeru yang merupakan impian belum kesampaian sejak saya kuliah. Ketika membaca lagi obrolan-obrolan tersebut, suara di kepala saya nyaring berbunyi *kapan lagi nih kalau gak sekarang, mainkaaan*.

Hunting tiket, sempat juga ada wacana nabung gunung *walau gak jadi*, update berkala dari teman-teman, referensi dari artikel, catper, teman yang sudah pernah naik lalu nyicil-nyicil peralatan yang belum ada membuat pendakian Rinjani ini terasa spesial, baru kali ini saya benar-benar *harus* mempersiapkan semuanya sebelum naik gunung, biasanya juga capcus. Jum’at malam 11 Mei 2012, menaiki motor mabur (LION AIR) saya menginjak tanah Lombok, perdana.

Setelah berbelanja kebutuhan logistik selama di gunung (4 hari 4 malam), nyari porter dan guide, sabtu sore dimulailah perjalanan ini. Start dari pos Sembalun sekitar jam 4 sore. Disuguhi pemandangan savana, memuaskan mata. Hujan mengiringi sampai pos 3, tempat istirahat malam itu. Minggu pagi lanjut lagi mendaki jalur penyiksaan *dikibulin terus sama bukit-bukitnya* untuk sampai ke pos Plawangan Sembalun, cuaca mendung dan kabut menolong kami di hari itu. Membayangkan jalur tersebut saat matahari terik akan sangat menguras stamina. Buka tenda dan istirahat di Plawangan Sembalun untuk persiapan summit senin pagi, cuaca tidak kunjung membaik, angin dan kabut setia dari sore hingga malam. Baca lebih lanjut